Minggu, 30 Oktober 2016

APA PENGARUH STRESS TERHADAP PENYAKIT HIPERTENSI ?

Hipertensi adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah diatas normal yang mengakibatkan peningkatan angka morbiditas dan angka kematian (mortalitas). Hipertensi merupakan masalah kesehatan besar di seluruh dunia sebab tingginya prevalensi dan berhubungan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskuler (WHO, 2010). Menurut American Heart Association (AHA) tekanan darah tinggi ditemukan satu dari setiap tiga orang atau 65 juta orang dan 28% atau 59 juta orang mengidap prehipertensi. Menurut WHO dan the International Society of Hypertension (ISH), saat ini terdapat 600 juta penderita hipertensi di seluruh dunia, dan 3 juta diantaranya meninggal setiap tahunnya. Tujuh dari setiap 10 penderita tersebut tidak mendapatkan pengobatan secara adekuat (Rahajeng, 2009 dalam Muhlisin & Laksono, 2011).       
Menurut Hegner (2003) dalam Prasetyorini dan Prawesti (2012) Peningkatan tekanan darah disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya yaitu stres emosional (marah, takut, dan aktivitas seksual). Stres merupakan keadaan dalam suatu tekanan fisik maupun psikis yang tidak menyenangkan. Mekanisme Stress bersifat individual, menurut Maramis (2004 dikutip dari Mesuri, 2013). Daya tahan atau penyesuaian individu terhadap stress akan berbeda satu sama lain karena tergantung pada umur, jenis kelamin, tipe kepribadian, tingkat intelegensi, emosi, status social atau pekerjaannya. Hal ini juga diungkapkan oleh Bheccker (2008) respon stress dapat diidentifikasi melalui karakteristik individu yaitu usia, pendidikan, jenis kelamin, dan pekerjaan. Maka dari itu stress berat bagi seseorang belum tentu merupakan stress berat bagi yang lainnya karena setiap orang memiliki persepsi dan toleransi yang berbeda-beda tentang hal-hal yang menjadi hambatan atau tuntutan yang menimbulkan stress.
Respon fisiologis dari stres akan meningkatkan frekuensi nadi, tekanan darah, pernafasan, dan aritmia. Menurut Herke (2006) Stress yang bersifat konstan dan terus menerus mempengaruhi kerja kelenjar adrenal dan tiroid dalam memproduksi hormone adrenalin, tiroksin, dan kortisol sebagai hormone utama stress akan naik jumlahnya dan berpengaruh secara signifikan pada system homeostasis. Adrenalin yang bekerja secara sinergis dengan saraf saraf simpatis berpengaruh terhadap kenaikan denyut jantung, dan tekanan darah. Selain meningkatkan Basal Metabolism Rate (BMR), Hormon Tiroksin juga menaikkan denyut jantung dan frekuensi nafas, peningkatan denyut jantung.
Pada zaman sekarang, masyarakat menghadapi masalah yang semakin beragam sebagai akibat modernisasi dan perkembangan dunia. Masalah hubungan sosial dan tuntutan lingkungan seiring harapan untuk meningkatkan pencapaian diri, ketidaksanggupan pribadi untuk memenuhi tuntutan tersebut dapat menimbulkan stres dalam diri seseorang. Beberapa faktor penyebab umum dari stres adalah masalah pekerjaan, faktor ekonomi, masalah rumah tangga, kurang tidur, dan lainnya.       
Tingginya insidensi stres di Indonesia juga merupakan alasan mengapa stres harus diprioritaskan penanganannya sebab pada tahun 2008 tercatat sekitar 10 % dari total penduduk Indonesia mengalami gangguan mental atau stres. Tingginya tingkat stres ini umumnya diakibatkan oleh tekanan ekonomi atau kemiskinan, Departemen statistika menyatakan bahwa 31 juta jiwa atau 13,33 % penduduk Indonesia berada pada garis kemiskinan dengan pengeluaran perbulan dibawah Rp 211.726,00 (Depkes, 2009 dalam Adientya & Handayani, 2012). Rendahnya pendapatan masyarakat yang hanya cukup untuk menyambung hidup tentu menimbulkan tekanan tersendiri. 
Berdasarkan 5 sumber jurnal yang saya dapatkan, saya merangkum bahwa terdapat hubungan atau pengaruh stress terhadap penyakit hipertensi.
1.       Dalam sebuah artikel jurnal yang berjudul “Hubungan antara Perilaku Olahraga, Stress  dan Pola Makan Dengan Tingkat Hipertensi  pada Lanjut Usia di Posyandu Lansia Kelurahan Gebang Putih Kecamatan Sukolilo Kota Surabaya” dilakukan penelitian terkait pengaruh stres terhadap hipertensi pada lansia. Hasil studi menunjukan bahwa terdapat hubungan antara perilaku stres dengan tingkat hipertensi pada lansia. Berdasarkan hasil penelitian menjelaskan bahwa sebagian besar lansia hipertensi yaitu sebesar 54,2% dan sebagian kecil prahipertensi yaitu 22,42%. Distribusi stres paling banyak kurang kebal terhadap stress yaitu 63,55% dan paling sedikit kebal terhadap stress yaitu 36,44%. Hal ini berarti sebagian besar lansia yang hipertensi termasuk dalam kriteria kurang kebal terhadap stres. Kurang kebal terhadap stres adalah jika seseorang dilihat dari kebiasaannya, gaya hidupnya dan lingkungannya rentan terhadap dampak negatif stres. Faktor stres dapat memicu masalah hipertensi. Stres tidak menyebabkan hipertensi yang menetap, tetapi stress berat dapat menyebabkan kenaikan tekanan darah yang bersifat sementara yang sangat tinggi. Jika periode stress sering terjadi maka akan mengalami kerusakan pada pembuluh darah, jantung dan ginjal sama halnya seperti yang menetap (Amir, 2002).
2.       Dalam sebuah artikel jurnal yang berjudul “Hubungan Tingkat Stres Dengan Derajat Hipertensi Pada Pasien Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Andalas Padang Tahun 2014”, untuk mengetahui tingkat stres terhadap derajat hipertensi, dilakukan penelitian secara korelasional dengan pendekatan cross sectional, dimana data yang menyangkut variabel dependen dan variabel independen dikumpulkan dan diamati dalam waktu yang bersamaan. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode accidental sampling, yaitu teknik pengambilan sampel dengan mengambil responden yang kebetulan ada atau tersedia pada saat penelitian (Notoadmodjo, 2010).  Secara statistic terdapat korelasi yang bermakna antara tingkat stress dengan derajat hipertensi, dengan kekuatan korelasi sedang dan arah positif, artinya semakin tinggi tingkat stress seseorang maka akan semakin tinggi derajat hipertensi seseorang.  Seseorang yang mengalami hipertensi derajat 1, berarti tekanan sistoliknya berkisar antara 140-159 mmHg atau diastoliknya 90-99 mmHg. Sedangkan, hipertensi derajat 2, tekanan sistoliknya ≥ 160 mmHg atau diastoliknya ≥ 100 mmHg. Hasil penelitian didapatkan bahwa persentase responden dengan hipertensi derajat 1 banyak pada responden dengan skor stress rendah dan hipertensi derajat 2, banyak pada responden dengan skor stress sedang berat dibanding responden dengan  skor stress rendah. Hal tersebut menunjukkan bahwa responden memiliki respon yang berbeda terhadap stressor  yang mereka alami sehingga berat ringannya stress yang mereka alami tidak sama.
3.       Dalam sebuah artikel jurnal yang berjudul “Hubungan Antara Mekanisme Koping Terhadap Stres Dengan Kejadian Hipertensi pada Warga di Desa Ngelom Sroyo Jaten Karanganyar” dilakukan penelitian terkait hubungan meknisme koping stres terhadap hipertensi. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa terdapat hubungan antara mekanisme koping stres terhadap kekambuhan penyakit hipertensi. Mekanisme koping yang baik akan menurunkan frekuensi kekambuhan hipertensi. Stres yang berkepanjangan dapat meningkatkan tekanan darah oleh karena itu diharapkan seseorang dapat hidup dengan lebih rileks dan mampu menggunakan cara- cara mekanisme koping yang efektif untuk menurunkan stres tersebut.
4.       Dalam sebuah artikel jurnal yang berjudul “HUBUNGAN POLA MAKAN DAN STRES DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI GRADE 1 DAN 2 PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KAMONJI KECAMATAN PALU BARAT” dilakukan penelitian terkait hubungan stres dengan kejadian hipertensi. Jenis penelitian ini adalah penelitian Cross Sectional yaitu merupakan suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor risiko dengan efek, dengan cara pendekatan, observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat (point time approach) (Notoatmodjo, 2012). Hasil analisis hubungan antara stres dengan kejadian hipertensi grade 1 dan 2 pada ibu hamil menunjukkan responden yang stres dan mengalami hipertensi grade 2 sebanyak 10 responden (28,6%) dari total 14 responden (40,0%). Subjek penelitian yang tidak stress dan mengalami hipertensi grade 2 sebanyak 4 responden (11,4%) dari total 14 responden. Sedangkan subjek penelitian yang tidak stres dan mengalami hipertensi grade 1 sebanyak 21 responden (60,0%) dari total 21 responden yang mengalami hipertensi grade 1. Hal ini menunjukkan bahwa stres mempengaruhi tingkat derajat hipertensi pada ibu hamil.
5.       Dalam sebuah artikel jurnal yang berjudul “HUBUNGAN STRES DENGAN KENAIKAN TEKANAN DARAH PASIEN RAWAT JALAN” dilakukan penelitian terkait hubungan stres terhadap kenaikan tekanan darah pasien rawat jalan. Hasil penelitian menggambarkan bahwa responden yang mengalami stres berjumlah 45 orang (50,6%) dan tidak stres berjumlah 44 orang (49,4%), itu menunjukkan bahwa responden yang mengalami stres lebih tinggi dibandingkan yang tidak stres. Hasil penelitian juga menggambarkan bahwa dari 44 (100%) responden yang tidak stres, 4 (9,1%) responden mengalami kambuh hipertensi. Walaupun sudah lama mengalami hipertensi, kita berasumsi mereka sudah beradaptasi dengan hipertensi, namun ternyata ada faktor lain dapat meningkatkan tekanan darah pasien yaitu stres.

Kesimpulan
Stres yang terjadi secara terus-menerus dapat menimbulkan terjadinya penyakit hipertensi. Pada orang yang sudah menderita penyakit hipertensi, tingkatan stres sangat mempengaruhi kambuhnya gejala penyakit tersebut. Selain itu, tingkatan stres juga mempengaruhi tingkat derajat hipertensi seseorang. Oleh karena itu, perlu adanya mekanisme koping terhadap stres untuk meminimalisir terjadinya hipertensi.


DAFTAR PUSTAKA

(Saleh, Kep, J, Huriani, & Mn, 2014)Saleh, M., Kep, M., J, S. K., Huriani, E., & Mn, S. (2014). HUBUNGAN TINGKAT STRES DENGAN DERAJAT HIPERTENSI PADA PASIEN HIPERTENSI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS ANDALAS PADANG TAHUN 2014, 10(1), 166–175. Retrieved from http://jurnal.fkep.unand.ac.id/index.php/ners/article/download/40/35
(Andria, 2011)Andria, K. M. (2011). DAN POLA MAKAN DENGAN TINGKAT HIPERTENSI PUTIH KECAMATAN SUKOLILO KOTA SURABAYA, 111–117. Retrieved from http://journal.unair.ac.id/filerPDF/jupromkes562e04d4f1full.pdf
(Ariasti & Pawitri, 2016)Ariasti, D., & Pawitri, T. N. (2016). HUBUNGAN ANTARA MEKANISME KOPING TERHADAP STRES DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI, 4(1), 76–82. Retrieved from http://ejurnal.akperpantikosala.ac.id/index.php/jik/article/download/87/61
(I Wayan Darwane, 2012)I Wayan Darwane, I. M. (2012). Hubungan Stres dengan Darah Pasien Rawat Jalan Kenaikan Tekanan, VIII(2), 95–100. Retrieved from http://poltekkes-tjk.ac.id/ejurnal/index.php/JKEP/article/view/149/141
(Wulan, Kundre, & M., 2016)Wulan, R., Kundre, R., & M., G. (2016). HUBUNGAN POLA MAKAN DAN STRES DENGAN KEJADIAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KAMONJI, 4. Retrieved from http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/jkp/article/download/10853/10442