Hipertensi
adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah
diatas normal yang mengakibatkan peningkatan angka morbiditas dan angka
kematian (mortalitas). Hipertensi
merupakan masalah kesehatan besar di seluruh dunia sebab tingginya prevalensi
dan berhubungan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskuler (WHO, 2010).
Menurut American Heart Association (AHA) tekanan darah tinggi ditemukan satu
dari setiap tiga orang atau 65 juta orang dan 28% atau 59 juta orang mengidap
prehipertensi. Menurut WHO dan the International Society of Hypertension (ISH),
saat ini terdapat 600 juta penderita hipertensi di seluruh dunia, dan 3 juta
diantaranya meninggal setiap tahunnya. Tujuh dari setiap 10 penderita tersebut
tidak mendapatkan pengobatan secara adekuat (Rahajeng, 2009 dalam Muhlisin
& Laksono, 2011).
Menurut
Hegner (2003) dalam Prasetyorini dan Prawesti (2012) Peningkatan tekanan darah
disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya yaitu stres emosional (marah,
takut, dan aktivitas seksual). Stres merupakan keadaan dalam suatu tekanan
fisik maupun psikis yang tidak menyenangkan. Mekanisme Stress bersifat
individual, menurut Maramis (2004 dikutip dari Mesuri, 2013). Daya tahan atau
penyesuaian individu terhadap stress akan berbeda satu sama lain karena
tergantung pada umur, jenis kelamin, tipe kepribadian, tingkat intelegensi,
emosi, status social atau pekerjaannya. Hal ini juga diungkapkan oleh Bheccker
(2008) respon stress dapat diidentifikasi melalui karakteristik individu yaitu
usia, pendidikan, jenis kelamin, dan pekerjaan. Maka dari itu stress berat bagi
seseorang belum tentu merupakan stress berat bagi yang lainnya karena setiap
orang memiliki persepsi dan toleransi yang berbeda-beda tentang hal-hal yang
menjadi hambatan atau tuntutan yang menimbulkan stress.
Respon
fisiologis dari stres akan meningkatkan frekuensi nadi, tekanan darah,
pernafasan, dan aritmia. Menurut Herke (2006) Stress yang bersifat konstan dan
terus menerus mempengaruhi kerja kelenjar adrenal dan tiroid dalam memproduksi
hormone adrenalin, tiroksin, dan kortisol sebagai hormone utama stress akan
naik jumlahnya dan berpengaruh secara signifikan pada system homeostasis.
Adrenalin yang bekerja secara sinergis dengan saraf saraf simpatis berpengaruh
terhadap kenaikan denyut jantung, dan tekanan darah. Selain meningkatkan Basal Metabolism
Rate (BMR), Hormon Tiroksin juga menaikkan denyut jantung dan frekuensi nafas,
peningkatan denyut jantung.
Pada
zaman sekarang, masyarakat menghadapi masalah yang semakin beragam sebagai
akibat modernisasi dan perkembangan dunia. Masalah hubungan sosial dan tuntutan
lingkungan seiring harapan untuk meningkatkan pencapaian diri, ketidaksanggupan
pribadi untuk memenuhi tuntutan tersebut dapat menimbulkan stres dalam diri
seseorang. Beberapa faktor penyebab umum dari stres adalah masalah pekerjaan,
faktor ekonomi, masalah rumah tangga, kurang tidur, dan lainnya.
Tingginya
insidensi stres di Indonesia juga merupakan alasan mengapa stres harus
diprioritaskan penanganannya sebab pada tahun 2008 tercatat sekitar 10 % dari
total penduduk Indonesia mengalami gangguan mental atau stres. Tingginya
tingkat stres ini umumnya diakibatkan oleh tekanan ekonomi atau kemiskinan,
Departemen statistika menyatakan bahwa 31 juta jiwa atau 13,33 % penduduk
Indonesia berada pada garis kemiskinan dengan pengeluaran perbulan dibawah Rp
211.726,00 (Depkes, 2009 dalam Adientya & Handayani, 2012). Rendahnya
pendapatan masyarakat yang hanya cukup untuk menyambung hidup tentu menimbulkan
tekanan tersendiri.
Berdasarkan
5 sumber jurnal yang saya dapatkan, saya merangkum bahwa terdapat hubungan atau
pengaruh stress terhadap penyakit hipertensi.
1. Dalam sebuah artikel jurnal yang
berjudul “Hubungan antara Perilaku Olahraga, Stress dan Pola Makan Dengan Tingkat Hipertensi pada Lanjut Usia di Posyandu Lansia Kelurahan
Gebang Putih Kecamatan Sukolilo Kota Surabaya” dilakukan penelitian terkait
pengaruh stres terhadap hipertensi pada lansia. Hasil studi menunjukan bahwa
terdapat hubungan antara perilaku stres dengan tingkat hipertensi pada lansia. Berdasarkan
hasil penelitian menjelaskan bahwa sebagian besar lansia hipertensi yaitu
sebesar 54,2% dan sebagian kecil prahipertensi yaitu 22,42%. Distribusi stres
paling banyak kurang kebal terhadap stress yaitu 63,55% dan paling sedikit
kebal terhadap stress yaitu 36,44%. Hal ini berarti sebagian besar lansia yang
hipertensi termasuk dalam kriteria kurang kebal terhadap stres. Kurang kebal
terhadap stres adalah jika seseorang dilihat dari kebiasaannya, gaya hidupnya
dan lingkungannya rentan terhadap dampak negatif stres. Faktor stres dapat
memicu masalah hipertensi. Stres tidak menyebabkan hipertensi yang menetap,
tetapi stress berat dapat menyebabkan kenaikan tekanan darah yang bersifat
sementara yang sangat tinggi. Jika periode stress sering terjadi maka akan
mengalami kerusakan pada pembuluh darah, jantung dan ginjal sama halnya seperti
yang menetap (Amir, 2002).
2.
Dalam
sebuah artikel jurnal yang berjudul “Hubungan Tingkat Stres Dengan Derajat
Hipertensi Pada Pasien Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Andalas Padang
Tahun 2014”, untuk mengetahui tingkat stres terhadap derajat hipertensi,
dilakukan penelitian secara korelasional dengan pendekatan cross sectional,
dimana data yang menyangkut variabel dependen dan variabel independen
dikumpulkan dan diamati dalam waktu yang bersamaan. Teknik pengambilan sampel
dalam penelitian ini menggunakan metode accidental sampling, yaitu teknik
pengambilan sampel dengan mengambil responden yang kebetulan ada atau tersedia
pada saat penelitian (Notoadmodjo, 2010).
Secara statistic terdapat korelasi yang bermakna antara tingkat stress
dengan derajat hipertensi, dengan kekuatan korelasi sedang dan arah positif, artinya
semakin tinggi tingkat stress seseorang maka akan semakin tinggi derajat
hipertensi seseorang. Seseorang yang
mengalami hipertensi derajat 1, berarti tekanan sistoliknya berkisar antara
140-159 mmHg atau diastoliknya 90-99 mmHg. Sedangkan, hipertensi derajat 2,
tekanan sistoliknya ≥ 160 mmHg atau diastoliknya ≥ 100 mmHg. Hasil penelitian
didapatkan bahwa persentase responden dengan hipertensi derajat 1 banyak pada
responden dengan skor stress rendah dan hipertensi derajat 2, banyak pada
responden dengan skor stress sedang berat dibanding responden dengan skor stress rendah. Hal tersebut menunjukkan
bahwa responden memiliki respon yang berbeda terhadap stressor yang mereka alami sehingga berat ringannya
stress yang mereka alami tidak sama.
3.
Dalam
sebuah artikel jurnal yang berjudul “Hubungan Antara Mekanisme Koping Terhadap
Stres Dengan Kejadian Hipertensi pada Warga di Desa Ngelom Sroyo Jaten
Karanganyar” dilakukan penelitian terkait hubungan meknisme koping stres
terhadap hipertensi. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa terdapat hubungan
antara mekanisme koping stres terhadap kekambuhan penyakit hipertensi.
Mekanisme koping yang baik akan menurunkan frekuensi kekambuhan hipertensi. Stres
yang berkepanjangan dapat meningkatkan tekanan darah oleh karena itu diharapkan
seseorang dapat hidup dengan lebih rileks dan mampu menggunakan cara- cara
mekanisme koping yang efektif untuk menurunkan stres tersebut.
4.
Dalam
sebuah artikel jurnal yang berjudul “HUBUNGAN POLA MAKAN DAN STRES DENGAN
KEJADIAN HIPERTENSI GRADE 1 DAN 2 PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
KAMONJI KECAMATAN PALU BARAT” dilakukan penelitian terkait hubungan stres
dengan kejadian hipertensi. Jenis penelitian ini adalah penelitian Cross
Sectional yaitu merupakan suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi
antara faktor-faktor risiko dengan efek, dengan cara pendekatan, observasi atau
pengumpulan data sekaligus pada suatu saat (point time approach) (Notoatmodjo,
2012). Hasil analisis hubungan antara stres dengan kejadian hipertensi grade 1
dan 2 pada ibu hamil menunjukkan responden yang stres dan mengalami hipertensi
grade 2 sebanyak 10 responden (28,6%) dari total 14 responden (40,0%). Subjek
penelitian yang tidak stress dan mengalami hipertensi grade 2 sebanyak 4
responden (11,4%) dari total 14 responden. Sedangkan subjek penelitian yang
tidak stres dan mengalami hipertensi grade 1 sebanyak 21 responden (60,0%) dari
total 21 responden yang mengalami hipertensi grade 1. Hal ini menunjukkan bahwa
stres mempengaruhi tingkat derajat hipertensi pada ibu hamil.
5. Dalam sebuah artikel jurnal yang
berjudul “HUBUNGAN STRES DENGAN KENAIKAN TEKANAN DARAH PASIEN RAWAT JALAN”
dilakukan penelitian terkait hubungan stres terhadap kenaikan tekanan darah
pasien rawat jalan. Hasil penelitian menggambarkan bahwa responden yang
mengalami stres berjumlah 45 orang (50,6%) dan tidak stres berjumlah 44 orang
(49,4%), itu menunjukkan bahwa responden yang mengalami stres lebih tinggi
dibandingkan yang tidak stres. Hasil penelitian juga menggambarkan bahwa dari
44 (100%) responden yang tidak stres, 4 (9,1%) responden mengalami kambuh
hipertensi. Walaupun sudah lama mengalami hipertensi, kita berasumsi mereka
sudah beradaptasi dengan hipertensi, namun ternyata ada faktor lain dapat meningkatkan
tekanan darah pasien yaitu stres.
Kesimpulan
Stres
yang terjadi secara terus-menerus dapat menimbulkan terjadinya penyakit
hipertensi. Pada orang yang sudah menderita penyakit hipertensi, tingkatan
stres sangat mempengaruhi kambuhnya gejala penyakit tersebut. Selain itu,
tingkatan stres juga mempengaruhi tingkat derajat hipertensi seseorang. Oleh
karena itu, perlu adanya mekanisme koping terhadap stres untuk meminimalisir
terjadinya hipertensi.
DAFTAR
PUSTAKA
(Saleh, Kep, J, Huriani, & Mn, 2014)Saleh, M., Kep, M., J, S. K., Huriani, E., & Mn,
S. (2014). HUBUNGAN TINGKAT STRES DENGAN DERAJAT HIPERTENSI PADA PASIEN
HIPERTENSI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS ANDALAS PADANG TAHUN 2014, 10(1),
166–175. Retrieved from
http://jurnal.fkep.unand.ac.id/index.php/ners/article/download/40/35
(Andria, 2011)Andria, K. M. (2011). DAN POLA MAKAN DENGAN TINGKAT
HIPERTENSI PUTIH KECAMATAN SUKOLILO KOTA SURABAYA, 111–117. Retrieved from
http://journal.unair.ac.id/filerPDF/jupromkes562e04d4f1full.pdf
(Ariasti & Pawitri, 2016)Ariasti, D., & Pawitri, T. N. (2016). HUBUNGAN
ANTARA MEKANISME KOPING TERHADAP STRES DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI, 4(1),
76–82. Retrieved from
http://ejurnal.akperpantikosala.ac.id/index.php/jik/article/download/87/61
(I Wayan Darwane, 2012)I Wayan Darwane, I. M. (2012). Hubungan Stres dengan
Darah Pasien Rawat Jalan Kenaikan Tekanan, VIII(2), 95–100. Retrieved
from http://poltekkes-tjk.ac.id/ejurnal/index.php/JKEP/article/view/149/141
(Wulan, Kundre, & M., 2016)Wulan, R., Kundre, R., & M., G. (2016). HUBUNGAN
POLA MAKAN DAN STRES DENGAN KEJADIAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KAMONJI, 4.
Retrieved from
http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/jkp/article/download/10853/10442